IBX5B5E115A9BF4E

4 Mitos Tentang Mie Instan yang Tidak Sepenuhnya Benar

Ada banyak kabar yang beredar terkait mie instan. Sebagai negara dengan penikmat mie instan terbanyak kedua di dunia, tentu kabar tersebut menjadi salah satu kabar yang menakutkan dan mengejutkan. Mulai dari kanker, zat beracun dan sebagainya yang berada dalam mie instan.

4 Mitos Tentang Mie Instan yang Tidak Sepenuhnya Benar

Ternyata, tidak semuanya yang Anda dengar itu adalah benar. Beberapa di antaranya justru hanya kabar hoax yang entah apa tujuannya disebarkan oleh banyak pihak. Berikut 10 mitos yang pernah beredar bahkan viral terkait mie instan yang tidak sepenuhnya benar.

1. Air rebusan pertama mie dapat menyebabkan kanker
Air rebusan mie pertama dari mie memang sebaiknya dihindari. Hal itu memang benar, untuk menghindari adanya ampas atau residu dari tepung dan sebagainya dari mie. Namun, kalau disebut karena bisa menyebabkan kanker, ternyata hal tersebut tidak benar, loh.

Dari info yang beredar, disebutkan bahwa air rebusan pertama dari mie, bila digabungkan dengan bumbu, maka akan berubah menjadi satu senyawa baru yang bernama senyawa karsinogen. Akibat dari munculnya senyawa ini adalah tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.

Faktanya, tidak pernah ditemukan adanya senyawa karsinogen tersebut dalam pengujiannya. Bahkan, meski dimasak dalam suhu mencapai 120 derajat Celcius sekalipun.

2. Mie mengandung zat lilin
Mie instan ketika dimasak menggunakan proses deep frying, sehingga kadar airnya berkurang. Proses memasak tersebut juga menyebabkan mie menjadi lebih awet. Adanya minyak di mie instan dalam proses tersebut menjadikan mie itu tidak lengket satu sama lain.

Sayangnya, banyak yang percaya bahwa mie tersebut tidak lengket disebabkan adanya zat lili, alias wax yang terkandung di mie instan. Faktanya, belum pernah ditemukan adanya zat lilin di dalam mie instan mana pun, loh!

3. Warna Kuning di Mie Menggunakan Pewarna Tekstil
Ini satu lagi yang sempat heboh menyebar di masyarakat. Kalau disebutkan warna kuning pada mie itu menggunakan pewarna makanan, memang betul. Juga disebutkan bahwa pewarna tersebut bukan pewarna alami, iya sebagian besar perusahaan produsen mie memang menggunakan pewarna Tatrazine atau CH940, yang tentunya bukan pewarna alami.

Tapi, tatrazine tersebut merupakan pewarna yang sudah diizinkan oleh internasional, loh. Tepatnya, standar internasional Codex Allimentarius, juga WHO. Di Indonesia, pewarna satu ini juga mendapat izin dari BPOM. Jadi, bila ada yang bilang pewarna kuning pada mie menggunakan pewarna tekstil, tentunya itu adalah kabar bohong.

4. Mie instan identik dengan "anak kost"
Di Indonesia, bisa dikatakan begitu. Mie instan adalah sahabat baik anak kost se-Indonesia dan menjadi makanan andalan di akhir bulan. Namun, bukan berarti mie instan itu identik dengan kaum-kaum yang kesulitan uang melulu, loh.

Beberapa produk mie instan lainnya juga merupakan makanan mewah. Harga jualnya juga tinggi, setidaknya perbungkus dijual Rp 15.000 hingga Rp 25.000. Apalagi produk mie kesehatan.

Bicara tentang mie sehat, mie jenis ini adalah mie yang paling aman karena jumlah kalorinya sangat rendah. Jadi, sangat aman untuk dikonsumsi orang-orang yang memiliki masalah dengan gula, atau berat badan. Mie sehat rendah kalori yang direkomendasikan adalah Fitmee. Mie satu ini menjadi pilihan untuk Anda yang tetap ingin makan mie, sambil diet, atau menurunkan kadar gula.

Jadi, nggak melulu mie instan itu identik dengan anak kost di akhir bulan, yah.

0 Response to "4 Mitos Tentang Mie Instan yang Tidak Sepenuhnya Benar"

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.